Memaknai Hari Pendidikan dengan Pembodohan

  • Whatsapp

Penulis : Moulidia* 

Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan(Tan Malaka)

Read More



OPINI—Seperti perkataan Tan Malaka sebuah pendidikan itu adalah sarana untuk mempertajam kecerdasaan setiap individu yang berhak menikmatinya.

Adanya pendidikan untuk mencerdaskan seseorang bukan untuk sebuah pembodohan, mendidik setiap insan akan segala kemauan yang dimiliki bukan sebagai perbudakan serta menjadikan setiap manusia berpendidikan memiliki perasaan yang halus terhadap sekitar bukan sebagai setan yang tidak bosan melakukan ketidakadilan.

Setiap tanggal 2 Mei menjadi perayaan hari pendidikan, yang katanya pendidikan adalah sektor kemajuan bagi bangsa. Tetapi nyatanya implementasi sebuah pendidikan tidak ada sama sekali, masih banyak ketertindasan dimana-mana, ketidakadilan tidak kunjung usai, kemalasan anak bangsa bak tabiat yang sudah melekat bahkan pejabat tidak malu lagi membuka diri untuk kezaliman yang dibungkus manis dengan perkataan.

Lantas perlukah kita memaknai hari pendidikan sebagai kemajuan bangsa? Atau pembodohan yang kian mencekik bangsa itu sendiri?. Kita terlalu bangga dengan pendahulu tanpa ikut menimbrung perjuangan mereka di masa kini, apa yang kita harapkan jika setiap tahun merayakan kesuksesan Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka, Wiji Thukul atau pejuang pendidikan lainnya jika kita sendiri tidak bisa memaknai sebuah perjuangan sejati yang harus diperjuangkan sampai darah penghabisan.

Kini kita seolah ditutup mata dengan perbudakan serta ketakutan yang ada, hanya sekedar merayakan tetapi dengan sekitar tidak peduli ketika diancam. Bagaimana bisa ini dikatakan kemajuan pendidikan suatu bangsa, sedangkan moral anak bangsa sendiri sangat jauh dari pejuang pendidikan dahulu, bangga dengan masa lalu sehingga lupa masa depan akan terancam jika tidak diperdulikan, siapa yang akan peduli jika bukan anak bangsa itu sendiri.

Memaknai hari pendidikan ini tidak terlepas dari keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang meniadakan Ujian Nasional (UN) atau katanya diganti dengan nilai komulatif sehari-hari atau semacamnya hanya dengan alasan pandemi.

Banyak siswa-siswa sekolah yang seharusnya mengikuti UN sangat bangga ketika ujian tersebut ditiadakan bak permata yang jatuh dari langit untuk mereka, tetapi di atas kebahagiaan semacam itu akan dilimpahkannya kemalasan dan pemdodohan atas negeri ini.

Tentu saja dengan tidak adanya lagi UN mereka bangga karena tidak perlu berjuang lagi mai-matian untuk sebuah keberhasilan, toh akan lulus semua ada belajar ataupun tidak. Jelas ini ketidakadilan, bagaimana generasi bangsa akan menopang bangsa ini sepuluh tahun kedepan jika kemalasan sudah ditanamkan sejak dini.

Mudah saja mereka akan berpikir tidak perlu lagi belajar, tidak perlu berusaha karena mendapatkan keberhasilan tidak perlu lagi sebuah tantangan maka minsed yang ditanamkan ini yakin saja akan membunuh karakter masing-masing mereka di kemudian hari.

Pandemi ini adalah tantangan global untuk bisa melawan tetapi tetap pada kewarasan, bukan semua dicampur adukkan sehingga semua tidak lagi masuk akal, dihapuskannya UN jelas bukan solusi yang baik melawan pandemi dengan mengorbankan tujuan pendidikan yang memperkukuh kemauan.

Kini generasi bangsa tidak lagi ingin berjuang semua perlu instan akhinya kebablasan dan tunggulah kehancuran. Padahal kita tahu sendiri para pejuang kemerdekaan bahkan para tokoh yang berhasil menaklukan dunia dididik dengan perjuangan bukan kemalasan.

Seharusnya itu yang menjadi pedoman kemajuan pendidikan yang berimbas dengan kemajuan bangsa. Tidak perlu dijelaskan bahwa siswa tertekan jika menghadapi UN atau stress, itu bukanlah sebuah alasan yang logis, tertekan dan semacamnya adalah bentuk dari sebuah pembelajaran untuk membentuk karakter seorang pejuang karena kesakitan dimasa lalu akan membentuk ketangguhan dimasa depan.

Kini lebih pilih mana sedikit siswa yang stress atau berjuta orang yang bodoh?. Ujian Nasional seharusnya menjadi penilaian pemerintah sejauh mana setiap daerah itu mengalami permasalahan di bidang pendidikan supaya ada perubahan kedepan serta sejauh mana pencapaian siswa akan tujuan pendidikan itu sendiri bukan malah membiarkan santai tanpa pengetahuan.

Ini bukanlah solusi yang baik, pemerintah seharusnya memikirkan dampak sepuluh tahun kedepan, anak bangsa perlu pendalaman karakter supaya tidak hanya bangga dengan perjuangan pendahulu tetapi tak tahu sebuah arti pencapaian tanpa harus diceritakan seperti dongeng belaka. Selamat Hari Pendidikan Nasional untuk generasi yang bangga akan kemalasan dan kegoblokan.

*Ketua Departemen Literasi, Riset, dan Kajian Strategis Forum Ukhuwah Aceh Selatan dan  Kabid Pendidikan di Hipelmabdya.

Related posts