Mendambakan Pemimpin yang Kuat dan Rendah Hati

  • Whatsapp

Oleh: Sayed Muhamad Husen (Pemimpin Redaksi Gema Baiturrahman)

ACEH BESAR—Kepemimpinan adalah kajian menarik sepanjang zaman, sebab jabatan pemimpin lebih menuntukan arah peradaban, keselamatan atau sebaliknya kehancuran suatu bangsa. Alquran dan sunnah Rasulullah memberi bobot yang besar terhadap ajaran kepemimpinan, sehingga menjadi panduan perjuangan dan pembangunan ummat Islam sepanjang zaman. Setiap generasi Islam dapat mempedomaninya.

Misalnya, Allah Swt berfirman, “Dan rendahkan dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS Asy-Syura: 215). Allah Maha Tahu dan kita pun membaca sejarah kepemimpinan penuh dengan keperkasaan, kekuasaan dan kadangkala disertai kekerasan. Watak kepemimpinan tanpa panduan wahyu ilahi, biasanya penuh ambisi, ekspansi dan cenderung mengabadikan kekuasaan yang telah digenggamnya.

Karena itu, Islam memandu pemimpin muslim, yang sedang memimpin orang-orang beriman, orang shalih dan orang taqwa, tidak menunjukkan sikap angkuh dan sombong. Tapi rendah hati. Dalam hal ini, memimpin adalah memfasilitasi orang-orang yang beriman supaya hidupnya lebih sejahtera, taat dan taqwa kepada Allah Swt. Mendukung dan mempermudah kehidupan mereka dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sebalikya, orang-orang beriman, shalih dan taqwa yang dipimpinnya akan mendoakan pemimpinnya tetap dalam bimbingan Rabbul ‘Alamin. Mampu mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah Swt. Tak ada kekuatan di dalam dan di luar yang merongrong kekuasaan dan kepemimpinannya. Rakyat membela dan bersaksi positif ketika pemimpin mereka difitnah dan dibuli.

Karena itu, pemimpin bangsa (berbagai tingkatan dan sektor) mestilah menujukkan akhlak yang baik, kesantunan dan keteladanan dalam kepemimpinannya. Akhlak yang baik dapat dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi yang ramah dengan rakyat, hal ini dapat ditunjukkan misalnya ketika berjumpa dan menerima tamu. Ketika menyediakan wadah terbuka rakyat berinteraksi melalui shalat berjamaah di masjid, forum pengajian terbuka atau kesempatan lainnya.

Pemimpin bukan figur kasar dan keras. Bukan pula tidak tegas. Dia bersikap wajar dan tampil sederhana, sehingga tidak senjang dengan prilaku orang-orang yang dipimpinnya. Untuk ini, dia membutuhkan penasihat yang menjaga kebiasaan-kebiasaan setiap jamaah/komunitas yang hendak ditemui, sehingga penampilan dan sikap pemimpin tetap disenangi rakyat. Pemimpin adalah referensi prilaku dan akhlak bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman,”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berbuat adil, berbuat baik, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari berbuat keji, kemungkaran dan permusuhan. Dan memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pengajaran.” (QS An-Nahl: 90)

Demikianlah Allah memberi petunjuk kepada kaum muslim dan pemimpin mereka, supaya berbuat adil, berbuat baik, mengurus orang-orang tak berdaya (mustadh’afin), melarang kemungkaran dan permusuhan. Tidak melahirkan atau menularkan konflik. Selain itu, menciptakan iklim di lingkungan kaum muslimin dan pemimpinnya senantiasa jadi pembelajar. Balajar dari cendikiawan, ulama dan orang-orang yang memiliki kearifan di dalam masyarakat.

Semoga dengan semangat “latihan pengelolaan diri” sepanjang Ramadhan kita akan lebih dekat dengan idealitas Al-Quran tentang kepemimpinan. Kita akan dipimpin oleh orang-orang yang tak kita ragukan ketaqwaannya. Sebaliknya pemimpin akan memimpin orang-orang beriman yang shalih dan taqwa. Sungguh satu bangunan bangsa yang mendapat ridha Allah Swt, sebab antara pemimpin dan rakyat yang dipimpin saling menguatkan, mendukung, dan saling mendoakan.

Setiap muslim alumni Ramadhan hampir pasti ingin segera hadir para pemimpin yang kuat, rendah hati, punya mimpi dan punya tujuan tanpa jangka panjang, sehingga mampu mengantarkan rakyat atau bangsa ini ke depan pintu gerbang kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita mendambakan pemimpin yang berwibawa, yang mampu mengelola krisis Covid-19 dan problem bangsa lainnya dengan efektif, sehingga kita segera keluar sebagai pemenang dan tampil sebagai bangsa yang diperhitungkan di pentas dunia.[]



Related posts