Menggapai Nilai Takwa

  • Whatsapp

Oleh : Jufri Aswad, S. Ag*

RAMADAN DARING—-Tak terasa kita telah memasuki sepuluh malam kedua bulan Ramadan. Bulan maghfirah, Allah akan mengampuni segala dosa orang-orang yang ikhlas dan keimanan melaksanakan amal ibadah pada bulan suci Ramadan.

Memohon ampun atas segala dosa yang pernah diperbuat dengan penuh pengharapan akan diterima oleh Allah Swt merupakan sebuah cita-cita seorang muslim yang bertakwa kepada Allah Swt.

Bersegeralah mengharap keampunan dari Allah, dan jangan menunda-nuda waktu. Jangan pernah menganggap masih muda, belum waktunya pensiun, dan belum hidup dalam keadaan melarat atau jatuh miskin. Menunda-nunda taubat merupakan sebuah kerugian yang besar. Kesibukan aktifitas duniawi, hati bernoda maksiat, perbuatan kita yang jauh dari nilai-nilai keimanan, dikhawatirkan hati kita sulit membuka pintu taubat.

Orang-orang yang takut kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah dan meninggalkan larangan-Nya disebut orang bertakwa. Tujuan akhir dari pelaksanaan ibadah puasa adalah mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa, (lihat QS. Al-baqarah, ayat 183). Ciri-ciri orang yabg bertakwa adalah :

Pertama, selalu beristighfar kepada Allah. Memohon ampun atas segala dosa yang pernah diperbuat oleh seorang hamba kepada Allah sebagai sang maha pencipta. Dengan penuh penyesalan, bercucur air mata seorang muslim bermunajat kepada kepada Allah penuh pengharapan supaya Allah Swt menerima do’a hamba-Nya. Kedua : ciri orang yang bertakwa adalah memberikan kemaafan kepada sesama muslim.

Apabila ada seorang muslim yang meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah diperbuat, maka seorang muslim harus memberikan kemaafan kepada saudaranya. Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa menjalin ukhuwah islamiyah sesame muslim. Umat Islam dilarang bercerai-berai, berkotak-kotak, dan timbul perpecahan. Rasulullah saw bersabda :“Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Dua hal yang harus kita ingat , pertama kebaikan orang kepada kita supaya kita berterima kasih atas bantuan orang lain. Kedua kesalahan kita terhadap orang lain supaya kita bersegera meminta maaf. Nama baik orang pernah kita cemari, harta orang pernah kita zalimi, kita pernah menipu dan mencelakakan orang lain, maka bersegeralah untuk meminta maaf.

Dua hal yang harus kita lupakan yaitu, pertama, kebaikan kita kepada orang lain. Di dalam Islam, nilai keikhlasan menjadi faktor utama diterimanya amal seseorang. Dengan melupakan apa yang pernah kita perbuat untuk kemaslahatan umat, apa yang pernah kita bantu untuk meringankan kesusahan orang lain, akan menjadi perbuatan itu bernilai ikhlas dan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah Swt.

Kedua, yang harus kita lupakan adalah kesalahan orang lain terhadap kita. Sehingga tidak menimbulkan rasa kebencian, dan dendam berkepanjangan yang dapat merusak hubungan persaudaraan, dan putusnya hubungan silaturahmi. Masyarakat Islam dibangun atas dasar ukhuwah islamiyah. Masyarakat Islam mempunyai ciri khas : yang pertama menjaga dan merawat nilai-nilai tauhid kepada Allah swt, dan kedua senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan sesama muslim ( ukhuwah islamiyah).

Ketiga:  Ciri-ciri orang bertakwa adalah senantiasa berinfak dikala lapang dan sempit. Umat Islam yang mempuyai kemampuan memiliki tanggung jawab sosial atas harta yang dimilikinya, untuk melaksanakan bermacam-macam sedekah sunnah.

Rasulullah saw selalu menganjurkan dan mendorong memberikan sedekah bagi orang yang membutuhkan. “Bersedekahlah kamu, sesungguhnya sedekah itu menjauhkan kamu dari neraka”(HR. Tabrani dan Abu Naim, “Tidaklah beriman kepada-Ku, orang yang semalaman merasa kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya dan ia pun mengetahuinya.”(HR. Tabrani).

Dalam QS. Al-Isra’ (17) :26-27, Allah Swt berfirman, “Dan berikanlah kepada keluarga yang dekat akan haknya, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”.

“Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh butir; pada tiap butir tumbuh seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi orang yang menghendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) dan Maha Mengetahui”(QS. Al-Baqarah(2): 261).

Masih banyak saudara-saudara kita yang masih terbelenggu kemiskinan, kesusahan mencari pekerjaan, dan memberikan nafkah kepada keluarganya. Apa lagi masa wabah covid-19 (corona) sangat berdampak kepada siklus kehidupan masyarakat.

Termasuk di sektor ekonomi juga terkena dampak wabah virus yang mematikan itu. Mari kita membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Jangan hanya untuk mengejar pencitraan kita membantu kaum yang lemah. Penyakit kikir dan terlalu berlebihan mencintai harta itu merupakan penyakin batin yang di larang oleh ajaran Islam.

Rasulullah Saw bersabda, “Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya akan Allah memudahkan kesulitan-kesulitannya di dunia dan di akhirat.

Barang siapa yang mebutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hambaya selama hamba-Nya menolong saudaranya”. (HR. Muslim)
Mengejar nilai takwa pada bulan Ramadan, Allah buka pintu syurga seluas-luasnya. Satu kali melakukan kebaikan di bulan Ramadan, sepuluh kali dibalas pahala oleh Allah Swt.

Perbuatan baik yang dilakukan dengan ikhlas merupakan tabungan yang akan dirasakan kenikmatannya di dunia dan di akhirat. Berbuat baik kepada sesame manusia merupakan jalan agar dicintai oleh Allah Swt.

*Penulis adalah : Guru PAI SMA Inshafuddin Banda Aceh, berdomisili di Gampong Ilie, Ulee Kareng Banda Aceh.

Related posts