Puasa Minimalis VS Maksimalis

  • Whatsapp

Oleh: Marsono, S.Pd.I *

■ “Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”
(Q.S. Al-Mulk: 2)

RAMADAN DARING— Tidak semua orang mengerti dan faham akan tujuan, maksud dan hakikat dari ibadah puasa. Makanya, tak heran bila ada orang yang berpuasa, tetapi dia tidak mengerti dan menerima dampak positif dari ibadah yang ia lakukan. dalam kata lain bahwa ada orang berpuasa minimalis (minim) dan ada orang berpuasa maksimalis (maksimal).

Yang dimaksud minimalis di sini adalah selain seseorang tidak menjaga kualitas puasanya dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, dari hal-hal yang dapat mengurangi bahkan membatalkan pahala puasanya, dia juga sangat minim dalam melaksanakan ibadah-ibadah yang lain, baik yang fardhu (wajib) maupun thatawwu’ (sunnat) seperti sholat berjama’ah, baca Qur’an, sholat tarawih, sholat rawatib, tahajjud, dzikir, sadaqah, da’wah, berhijab dan sebagainya, sehingga puasa dan ibadah lainnya hanya sekedar saja sebagai rutinitas belaka tanpa ada peningkatan ibadah ke arah yang lebih maksimal.

Sedangkan yang dimaksud maksimalis adalah seseorang yang berpuasa dengan penuh kehati-hatian dan rasa takut puasanya tidak diterima oleh Allah SWT (Khauf) sehingga ia betul-betul menjaga puasanya dengan sebaik-baiknya dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa atau yang bisa mengurangi pahala pusanya dengan menjaga seluruh panca indera dan anggota tubuh lainnya, bahkan hati dan fikirannya dari hal-hal yang tidak baik (maksiat), disamping itu dia juga melakukukan berbagai macam ibadah lainnya (hablum minallah-hablum minannas) dengan sungguh-sungguh, berkualitas dan sesempurna mungkin, menunjukkan peningkatan yang significant di banding di bulan-bulan lainnya.

Oleh sebab itu, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin membagi tiga tingkatan puasa:
“Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa.

Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintar dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.”

Bulan ramadhan merupakan suatu anugerah yang sangat berharga yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat Islam pada umumnya wabilkhusus kepada orang-orang yang beriman, betapa tidak, di bulan ini Allah SWT mengobral pahala berlipat-lipat ganda terhadap kebajikan-kebajikan yang dilakukan oleh setiap hamba-Nya. Bahkan lebih dari sekedar berlipat ganda, karena ”Puasa itu untuk Ku dan Aku sendiri yang membalasnya” kata Allah SWT dalam Hadits Qodsi. Dalam potongan ayat yang lain Allah SWT berfirman yang artinya: “ Allah melipat gandakan ganjaran (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki” (Q.S. Al-Baqarah:261).

Oleh karena itu setiap hamba yang beriman kepada Allah SWT, tentunya tidak akan membiarkan bulan ramadhan ini berlalu begitu saja tanpa usaha yang maksimal untuk beribadah sebaik mungkin dan mendekatkan diri Kepada Allah SWT karena dia sadar bahwa peluang atau kesempatan (opportunity) seperti ini belum tentu ia dapatkan ditahun-tahun yang akan datang.

“Demi masa Sesungguhnya, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-rang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” (Q.S. Al-Ashr: 1-3).

Ayat ini sangat patut menjadi pendorong semangat (Targhib) bagi kita untuk memanfaatkan peluang emas ini, terlebih dalam bulan ramadhan tahun ini dimana kita semua dilanda keperihatinan amat dahsyat dengan merebaknya wabah Corona virus desease (Covid – 19) sehingga pemerintah menetapkan keadaan darurat Nasional hingga 29 Mei mendatang. Ini artinya dalam bulan ramadhan ini mayoritas kita lebih banyak di rumah (Stay at home) dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tentunya dengan keadaan ini dapat dipastikan kebanyakan kita memeliki waktu luang yang banyak karena memang pemerintah menerapkan social distancing dimasa darurat ini dimana sekolah-sekolah dan juga kampus-kampus diliburkan dan diganti dengan pembelajaran dirumah, dengan media online dan sebagainya, sementara pekerja kantor-kantor pemerintah dan swasta diberlakukan sistem pikiet dan sebagainya.

Alangkah naif dan sangat disayangkan bila dalam waktu kita yang agak lebih senggang di ramadhan 1441 H ini ibadah ramadhan kita tidak maksimal, tidak berkualitas dan berkuantitas, tidak sungguh-sungguh, biasa-biasa saja bahkan minimalis (minim), maka ini dapat menjadi bahan penyesalan kita di yaumil hasr (hari penyesalan) di akhirat kelak, karena banyak ungkapan penyesalan yang diutarakan oleh manusia di hari akhirat kelak adalah penyesalan karena gagal memanfaatkan waktu (time), peluang atau kesempatan (opportunity) dengan sebaik-baiknya. Diantara ungkapan penyesalan itu antara lain: “ Ya Rabb ku, mengapa Engkau tidak menagguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah, dan aku termasuk orang-orang yang sholeh?”, (Q.S. Al-Munafiqun:10 ) “ Ya Tuhan kami kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal sholeh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin” (Q.S. As-Sajadah: 12).

Kita kembali kepada perkataan Iamam Al-Gazali tersebut di atas, bahwa tiga tingkatan ini disusun berdasarkan sifat orang yang mengerjakan puasa. Ada orang puasa hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi perbuatan maksiat tetap dilakukannya. Inilah puasa orang awam.

Pada umumnya, mereka mendefenisikan puasa sebatas menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara dzahir.
Hal ini berbeda dengan tingkatan kedua, yaitu puasanya orang-orang shaleh. Mereka lebih maju dibandingkan orang awam, sebab mereka paham bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa.

Percuma berpuasa, bila masih terus melakukan maksiat. Karenanya, kelompok ini menilai maksiat menjadi pembatal puasa. Selanjutnya puasa paling khusus. Puasa model ini hanya dikerjakan oleh orang-orang tertentu. Hanya sedikit orang yang sampai pada tahap ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT. Bahkan, pikiran selain Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan membatalkan puasa.

Dari tingkatan ini, kita mengetahui bahwa ibadah puasa merupakan kesempatan terbesar untuk melatih diri kita supaya lebih baik dari sebelumnya. Tentunya kita harus menjadikan puasa kita menjadi puasa maksimalis bukan puasa yang minimalis
Nah, selain hal-hal yang sudah kita uraikan diatas, untuk menjadikan puasa kita menjadi puasa maksimalis, berbobot dan berkualitas, diantaranya perlu kita cermati dan aplikasikan substansi dari beberapa Firman Allah SWT berikut:

1. Obral sedekah, obral maaf, jangan ada sedikitpun di hati kita masih ada rasa dendam dan iri, hati kita ini adalah milik Allah jangan diisi dengan macam-macam penyaki seperti itu, harumkan hati kita dengan nama Allah SWT dan nama Rasulullah SAW jangan dibusukkan dengan rasa benci dan dendam kepada siapapun. Dengan puasa maksimalis kita ingin menjadikan diri kita berakhla seperti “akhlaq Tuhan” apa maksudnya? Allah SWT tidak makan, tapi Dia memberi makan , Allah tidak minum, tapi memberi minum. Oleh karena itu selain kita berpuasa tapi kita juga harus memikirkan nasipnya orang-orang fakir dan miskin (Q.S. Ali-Imran: 134

2. Cerdas dalam memilih informasi, tidak bohong, hati-hati. Hari ini kita melihat betapa banyak orang-orang cerdas dan pintar yang kreatif memprodusen berita-berita bohong (hoax), (Q.S Al-Hujurat: 6) sehingga bukan hanya orang-orang awam saja yang termakan berita bohong, bahkan orang-yang berpendidikan tinggi juga bisa termakan berita bohong. Kalau kita melihat sejarah yang pertama sekali korban berita bohong adalah Nabi Adam AS (Q.S. Al-A’raf: 22) yang menyebabkan beliau harus keluar dari surga. Oleh karena itu jangan lagi kita memberi ruang gerak terhadap berita-berita bohong, hentikan kebiasaan share-menshare berita yang tidak bisa kita pastikan kebenarannya dan tidak bisa kita pertanggung jawabkan.

Gantilah kebiasaan kita menebar berita yang belum tentu kebenarannya dengan kita mempelajari Al-Qur’an, membacanya, mendalaminya dan mengamalkannya, sibukkan diri kita dengan mempelajari hadits, sejarah Nabi dan sebagainya.

3. Kata-kata yang dipilih untuk kita ucapkan adalah kata-kata yang merekatkan, bukan merenggangkan antar sesama hindari buruk sangka dan menjelek-jelekkan orang (Q.S. Al-Hujurat: 10-12).

Akhirnya, semoga Allah SWT menjadikan kita semua menjadi orang-orang yang menjalankan ibadah puasa dengan puasa yang maksimalis, sehingga dengan puasa maksimalis insaya Allah menjadikan kita orang-orang yang mendapat titel Taqwa. Amin..
Wallahu A’lam bish-shawab, semoga bermanfaat.

*Penulis: Guru PAI SMAN 1 Syiah Utama Kab. Bener Meriah (Ketua DPD-AGPAII Kab. Bener Meriah)

Related posts