Ramadan, Momentum Perubahan Menuju Kesalehan

  • Whatsapp

Oleh : Ahlul Fikri Hasan, S.PdI M.Pd*

RAMADAN DARING—-Alhamdulillah, segala pujian dan rasa syukur kita panjatkan hanya kepada Allah SWT, Rabbul ‘alamin, atas nikmat kesempatan yang dihamparkan kepada kita hingga kita bisa kembali bersua dengan syahrul mubarak (syahrus shiyam) 1441 H. Tidak seorang pun dari kita bisa memastikan apakah masih ada kesempatan untuk bersua dengan syahrul maghfirah di 1442 H tahun depan.

Read More



Sebagian dari kita yang pada tahun-tahun sebelumnya masih beribadah bersama-sama, mungkin kini diantaranya ada yang sakit bahkan sudah lebih dulu menghadap Allah swt. Karenanya, layak kiranya kita memaksimalkan segala keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan tahun ini sebagai medium yang efektif untuk melahirkan perubahan-perubahan penting dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun bernegara.

Tanpa terasa, setiap tahun kita berjumpa dengan Ramadhan. Kita selalu bersemangat mengisinya dengan berbagai bentuk macam ibadah wajib maupun sunnah. Kita pun meninggalkan semua perkara yang membatalkan puasa; kita tinggalkan segala perkara yang haram hingga yang makruh, bahkan perkara mubah yang tidak ada nilai taqarrub-nya kepada Allah SWT. Singkatnya, Ramadhan kita isi sepenuhnya dengan ragam amal shalih.

Tanpa terasa, mulai Jumat 24 April 2020 kita kembali dapat bertemu dengan Ramadan 1441 H.Hadirnya Ramadan Tahun ini sangat berbeda dengan tahun tahun sebelumnya dimana umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa juga sedang menghadapi wabah Covid 19 yang hadir di seluruh dunia. Kita berharap dengan hadirnya bulan Ramadan tahun ini,wabah ini dapat segera berakhir dan kita terhindar dari penyebaran virus tersebut.

Sudah berapa kali dalam hidup kita melewati Ramadan demi Ramadan dan apa yang kita dapatkan selama ini. Kalau usia kita 40 tahun berarti kita sudah menjalani puasa sebulan penuh kira-kira 25 kali dalam 25 tahun terakhir sejak kita baligh. Perubahan apa yang telah kita dapatkan?

Ramadan menawarkan momentum perubahan yang fundamental bagi pribadi seorang mukmin maupun kehidupan umat Islam secara keseluruhan. Peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah umat Islam terjadi di bulan ramadan.

Perang badar, pembebasan Makkah (Fathul Makkah), sebagian peristiwa pada Perang Tabuk, pembebasan Andalusia (Spanyol) oleh Thariq bin Ziyad, dan sebagainya, termasuk proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi di bulan Ramadhan.

Di bulan ramadan ini orang beriman diharuskan meninggalkan makan, minum, melakukan hubungan suami isteri, dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Diperintahkan kepada kita untuk menjaga mata, telinga, lisan, tangan, kaki, pikiran dan hati kita dari segala kemaksiatan.

Diperintahkan kepada kita untuk memperbanyak ibadah sunnah di samping tetap memperbaiki ibadah-ibadah wajib. Kalau itu semua kita lakukan dengan benar tentu akan ada perubahan besar dalam hidup kita. Untuk itu mari kita renungkan kembali apa sesungguhnya esensi Ramadhan itu bagi kehidupan kita.

Setiap muslim sangat mendambakan bisa melaksanakan ibadah puasa ramadan dengan sempurna termasuk melaksanakan amalan sunat lainnya seperti memperbanyak zikir, membaca Alqur’an, qiyamul lail, bersedekah dan sebagainya.

Bagi muslim millenial, ramadan kali ini seharusnya dapat menjadi titik pijak untuk hidup lebih berkualitas.
Suatu ikhtiar suci dalam memperbaiki segala aspek kehidupan baik secara personal maupun sosial. Ramadhan juga dapat menjadi momentum terbaik untuk melakukan internalisasi nilai-nilai utama pendidikan karakter yang mencakup aspek religiusitas, integritas, kemandirian, semangat kebangsaan dan gotong-royong.

“Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (24), pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (25).”

Ayat di atas memberikan petunjuk bahwa generasi emas yang kita harapkan adalah generasi yang memiliki pijakan yang kokoh sekaligus menjadi generasi yang kreatif dan punuh karya yang dapat memberikan manfaat kepada banyak orang.

Tentu, dari ramadan ke ramadan berikutnya, setiap muslim merindukan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya; kehidupan yang dinamis di bawah sebuah sistem yang sahih, yang bisa menenteramkan jiwa, memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia; kehidupan yang dipimpin oleh orang-orang salih, berpandangan jauh ke depan dan visi keumatannya lebih menonjol daripada visi dan kepentingan nafsu pribadinya. Semua itu landasannya adalah takwa.

Takwalah yang menjadikan manusia meraih derajat paling mulia di sisi Allah SWT:
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa (QS al-Hujurat : 13). Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah : 183).

Tentu, Allah SWT tidak pernah menyelisihi janji dan firman-Nya. Jika umat ini mengerjakan ibadah puasa dengan benar (sesuai dengan tuntunan al-Quran dan as-Sunnah) dan ikhlas semata-mata mengharap ridla Allah SWT-seraya belajar memahami hakikat berbagai peribadatan untuk menjadikan dan membentuk jiwa seorang Muslim tunduk pada segala aturan (syariah) dan tuntunan yang dibawa Rasulullah saw.-niscaya hikmah takwa itu akan dapat terwujud.

Sadarkah kita, bahwa ramadan bagi umat Islam itu bukan segalanya? Ramadan adalah bagian dari bulan saat Allah SWT memerintahkan di dalamnya satu kewajiban, yakni ibadah puasa. Namun, kewajiban sebagai hamba Allah SWT tidak hanya sebatas puasa. Tentu masih banyak kewajiban lain selain puasa. Ya, Islam tidak sebatas puasa; atau sebatas shalat dan ibadah ritual lainnya.

Namun, puasa bisa dijadikan titik tolak untuk menuju perubahan kehidupan kaum Muslim yang lebih baik secara keseluruhan.

Sejatinya, bagi setiap muslim yang bertakwa, Ramadhan tidak akan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak ukiran yang terpahat kuat di dalam dirinya, yakni sebuah nilai kesadaran akan pentingnya kembali hidup taat dengan aturan Allah SWT.

Bagi seorang muslim yang bertakwa, akidah dan syariah Islam adalah kebutuhan dan persoalan antara hidup dan mati. Akidah dan syariah Islam harus menjadi faktor penentu hidup ini berarti atau tidak, mulia atau hina, baik dalam di dunia maupun di akhirat kelak.

Karena itu, seorang muslim yang bertakwa harus berani mengatakan “tidak” terhadap sekularisme. Ia harus segera membuang demokrasi dan mencampakkan ideologi Kapitalisme dengan semua nilai turunannya. Sebab, semua itu jelas-jelas bertentangan dengan akidah dan syariah Islam.

Semua itu wajib dilakukan oleh setiap Muslim yang bertakwa selagi Allah SWT masih memberikan kesempatan dan sebelum datangnya ketentuan-Nya:
Hingga jika datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku bias berbuat amal salih sebagai ganti dari yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang dia ucapkan saja. Di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (QS al-Mukminun ): 99-100).

Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki dan Dia Mahaperkasa lagi Penyayang (QS ar-Rum : 4-5)

Pertama; Ramadhan Bulan Tarbiyah (Pendidikan)

Setiap manusia sesungguhnya dilahirkan dalam keadaan fithrah. Inilah kondisi ideal bagi manusia karena ia telah bertauhid semurni-murninya sejak di dalam kandungan sampai ia dilahirkan. Jiwa yang bertauhid inilah yang menjadikan manusia selalu merindukan kebaikan, kebenaran, dan keindahan yang sempurna yang hanya bisa ia dapatkan ketika ia mendekat kembali kepada Penciptanya.

Setelah dilahirkan ke dunia, manusia yang dalam dirinya melekat hawa nafsu, berinteraksi dengan lingkungannya dan dipengaruhi godaan setan. Kondisi ini bisa merusak fithrahnya. Karena itu pendidikan yang sesungguhnya adalah mendidik diri agar mampu mengendalikan hawa nafsu dan memiliki imunitas (kekebalan) dari berbagai godaan.

Sesungguhnya nafsu adalah anugerah Allah bagi manusia agar memiliki gairah dan semangat untuk keberlangsungan hidupnya. Tidak ada nafsu tidak ada kehidupan. Nafsu yang terkendali, seperti kuda tunggangan, akan mengantarkan manusia mencapai tujuannya. Jika tidak terkendali, maka ia akan menyeret kita tak tentu arah dan tujuan.
Sabda Nabi: “Puasa bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji.” (HR Bukhari).

Kedua; Ramadhan Bulan Ibadah

Ibadah sesungguhnya memiliki dimensi yang sangat luas mencakup segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan ataupun perbuatan, yang nampak (dzahir) ataupun yang tidak nampak (bathin). Tetapi di bulan Ramadhan ini kita diperintahkan mengkhususkan diri taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan meningkatkan ibadah kita; shalat lima waktu berjamaah di masjid ditambah dengan sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah, bangun di tengah malam untuk tahajjud, doa, dzikir, tadarrus al-Qur’an, dan beri’tikaf di masjid terutama pada sepuluh hari terakhir.

Sebelas bulan kemarin kita dibelit oleh kesibukan duniawi.
Kini saatnya kita rihlah, mentamasyakan jiwa kita yang selama ini terlantar. Bebaskan diri kita dari segala kesempitan dunia dan mendekatlah kepada Allah yang maha luas rahmat-Nya.

Mari kita sambut undangan Allah sebagaimana sabda Nabi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (HR Ath-Thabrani).

Ketiga; Ramadhan Bulan Muhasabah (Instropeksi Diri)

Kesibukan hidup seringkali membuat kita kehilangan kejernihan. Berbagai persoalan bertumpuk-tumpuk dan tidak menemukan jalan keluarnya. Banyak orang yang mencari alternatif ke arena-arena hiburan. Apa yang mereka dapatkan? Ketenangan, kejernihan berpikir, atau ketajaman wawasan?
Justru arena-arena hiburan itu akan menambah permasalahan, membebani otak, dan menumpuk berbagai permasalahan baru. Di sana kerakusan nafsu dan keberingansan hewani akan terpupuk. Di bulan Ramadhan ini nafsu ditundukkan, jiwa akan menjadi lebih tenang.

Dalam kondisi ini kita akan lebih jelas melihat persoalan hidup. Sebelas bulan kita cenderung lalai, kini saatnya bermuhasabah untuk menata kembali orientasi hidup kita. Pesan Nabi : “Orang yang pandai adalah yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR Imam Tirmidzi).

Keempat; Ramadhan Bulan Taubat

Setiap manusia pasti mempunyai dosa dan kesalahan. Dan sebaik-baik hamba yang berdosa adalah yang bertaubat kepada-Nya. Tetapi ketika dosa sudah bertumpuk-tumpuk, berurat dan berakar, bukan perkara mudah untuk bertaubat. Ibarat tanaman yang baru tumbuh, mudah bagi kita untuk mencabutnya. Tetapi ketika ia sudah menjadi besar, tidak mudah kita mencabutnya apalagi ketika tenaga kita semakin melemah.

Dibutuhkan energi ruhani yang luar biasa untuk berhenti dari setiap kemaksiatan. Di bulan Ramadhan ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, dan nafsu dikendalikan. Allah menawarkan ampunan bagi setiap hamba yang berdosa untuk kembali kepada-Nya.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan saya menyunnahkan bagi kalian shalat malamnya. Maka barangsiapa melaksanakan ibadah puasa dan shalat malamnya karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, niscaya dia keluar dari dosadosanya sebagaimana saat dia dilahirkan oleh ibundanya.” (HR Imam an-Nasa’i dan Imam Ahmad)

Kelima; Ramadhan Bulan Jihad.

Turunnya perintah puasa di bulan Ramadhan beriringan dengan perintah jihad dalam Perang Badar pada tahun kedua hijriah. Kaum muslimin berperang dengan orang-orang kafir di bulan itu dengan tetap berpuasa. Puasa dan jihad sesungguhnya memiliki esensi yang sama yaitu berperang, terutama memerangi hawa nafsu.

Tidak mungkin orang akan berangkat berperang melawan musuh Allah kalau ia tidak bisa memerangi nafsunya sendiri. Demikian juga tidak mungkin orang bisa berpuasa dengan benar kalau dia tidak memerangi hawa nafsunya. Karena itu sangat disayangkan di bulan Ramadhan ini sebagian umat Islam justru memupuk nafsu bermalasan dan memperbanyak tidur.

Menjadi pemandangan yang lumrah tetapi memprihatinkan, sebagian kaum muslimin melakukan hal yang sia-sia, bahkan maksiat; jalan-jalan sehabis shubuh, berkumpul di lapangan dan taman-taman, bercampur baur lak-laki perempuan, sulit menjaga pandangan mata; bermain video game, internet, menonton TV (pagi, siang, sore, malam, hingga dini hari); memenuhi tempat-tempat rekreasi dan hiburan, pusat perbelanjaan, kolam renang, pemancingan; menunggu buka puasa dengan panggung hiburan musik, kebut-kebutan liar, main petasan, bahkan di beberapa tempat ada tradisi berjudi; malam hari di isi dengan begadang, mengobrol dan senda gurau; dan tradisi-tradisi lain, baik yang lama (dari nenek moyang) maupun tradisi baru, yang tidak ada hubungannya dengan ibadah Ramadhan.

Karena itu mari kita menempa diri di bulan ini dengan bersungguh-sungguh berperang untuk menundukkan hawa nafsu kita dan bersungguh-sungguh meraih setiap keutamaan di bulan ini.

Keenam; Ramadhan Bulan al-Qur’an.

Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Quran sebagaimana firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa : “Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al -Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil),” (QS. Al-Baqarah: 185). Al-Quran adalah pedoman hidup yang tidak boleh lepas dari kehidupan seseorang. Tanpa Al-Qur’an manusia seperti berjalan di tengah malam gelap gulita tanpa cahaya. Mari kita jadikan diri kita pribadi qur’ani. Keluarga kita keluarga qur’ani. Anak-anak kita generasi qur’ani. Dan masyarakat kita masyarakat qur’ani. Bebaskan diri dari buta huruf dan buta makna Al-Quran dengan membacanya, memperbaiki bacaan, menterjemah, mempelajari tafsirnya, dan mentadabburinya (mengambil hikmah darinya).

Ketujuh; Ramadhan Bulan Ukhuwwah

Di bulan Ramadhan ini kaum muslimin banyak bertemu dan berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dalam ibadah ritual maupun ibadah sosial. Bahkan sabda Nabi berikut ini mengisyaratkan kepada kita agar membangun kebersamaan dan persatuan umat Islam.
“Puasa itu hari (ketika) manusia berpuasa dan hari raya itu hari (ketika) manusia berhari raya,” HR Tirmidzi. Karena itu mari kita hindari perdebatan dan pertengkaran dalam hal-hal yang bersifat khilafiyah – furu’iyah. Para da’i, khatib, ustadz hendaknya menyampaikan pesan-pesan ukhuwwah, bukan malah memperuncing perbedaan yang memang tidak mungkin disamakan. Perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyah – furu’iyah pasti akan terus terjadi, tetapi menjaga ukhuwwah adalah kewajiban kita. Mari kita memperbanyak silaturrahim, saling memaafkan dan memperbaiki hubungan, saling memberikan hadiah, saling menasehati, saling mendoakan.

Kedelapan; Ramadhan Bulan Sedekah.

Puasa mengingatkan kita tentang orang-orang yang kelaparan karena kemiskinan dan kefakiran, yang kadang-kadang tak diketahui oleh orang-orang kaya. Allah hendak memberi kabar kepada mereka bahwa di sana ada saudara-saudara mereka yang tidur beralaskan tanah dan berselimut langit, tanpa secuil makanan.

Kalau kita lapar selama sebulan, ketahuilah orang lain telah merasa lapar selama berbulan-bulan. Mari kita jadikan puasa sebagai momentum untuk meningkatkan kedermawan dan solidaritas sosial. Hindari segala sikap berlebih-lebihan, berfoya-foya, pemborosan yang bisa menumpulkan jiwa sosial kita.

Siapkan harta untuk menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, dan memberi makan orang-orang yang berpuasa. Ibnu Abbas meriwayatkan: Bahwa Rasulullah saw adalah manusia yang paling dermawan, dan bahwa beliau saw lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, ketika sering dikunjungi Jibril (as) dan bahwa ia dikunjungi (Jibril as) setiap malam di bulan Ramadhan dan memperdalam Al Qur’an, dan Sungguh Rasulullah saw lebih dermawan terhadap perbuatan baik dari angin yang berhembus (sangat ringan dan cepat berbuat baik tanpa merasa keberatan)” (HR Bukhari)

Kesembilan; Ramadhan Bulan Dakwah.

Dakwah adalah mempertautkan hati manusia dengan hidayah Allah dan merubah jiwa manusia kepada kondisi yang lebih baik dan diridhoi Allah. Hati manusia senantiasa berbolak-balik. Kadang menerima, kadang menolak. Kadang terbuka, kadang tertutup. Kadang semangat, kadang mengendor. Kita diperintahkan berdakwah kepada manusia dengan cara yang baik.
Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik,” QS An-Nahl : 125.

Pada bulan Ramadhan jiwa-jiwa manusia lebih terbuka sehingga lebih mudah menangkap hidayah Allah. Karena itu mari kita gencarkan syiar Islam dan semarakkan dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dan sebagainya. Semoga dengan demikian semakin banyak umat Islam ini yang tercerahkan.

Demikianlah berbagai hal yang menjadi esensi Ramadhan. Semoga puasa kita tidak sia-sia. Tidak sekedar lapar dan dahaga. Semoga kita bisa menjalani Ramadhan ini sebaik-baiknya dan berhasil meraih berbagai kemuliaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.[]

*Penulis : Kepala SMA Negeri 2 Lhoknga Aceh Besar/Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia(DPW-AGPAII) Provinsi Aceh.



Related posts

Paris

Paris