Ramadan Puncak Muhasabah Terindah

  • Whatsapp

 Oleh: Hj Darliana SAg MAg*

RAMADAN DARING—Alhamdulillah, tidak terasa kita sudah melewati 15 hari bulan Ramadan, tepatnya sudah memasuki separuh Ramadan tahun ini. Sudah selayaknya menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk memaksimalkan ibadah kita, akankah kita melewatkan ladang amal yang begitu luas, akankah kita akan menanam seribu kebaikan atau berselancar di dunia maya tanpa batas di ladang maksiat, Semua pilihan ada di tangan kita.

Akan sangat disayangkan sekali jika kita tidak bisa bermuhasabah diri di bulan yang mulia ini. Muhasabah ialah introspeksi, mawas diri, atau meneliti diri. yaitu menghitung-hitung perbuatan dan ucapan yang kita ucapakan dan kita lakukan pada tiap tahun, tiap bulan, tiap hari, bahkan setiap saat.

Manusia yang mulia ialah yang mau terus belajar dari masa lalu dan memperbaiki setiap kesalahan yang diperbuat serta tidak mengulanginya, karena hakekatnya tak ada manusia yang sempurna.

Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19).

Instropeksi diri tentunya bukanlah hal yang mudah, apalagi jika ‘ego’ dalam diri masih sepenuhnya berkuasa. Dengan mudahnya, kita bisa menilai orang lain itu tidak baik, orang lain itu lebih rendah daripada kita, padahal kita tidak pernah tahu bagaimana posisi kita sendiri di hadapan Sang Maha Pemilik Jiwa.

Ramadan adalah momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah. Apakah puasa kita selama hari demi hari selama ini menambah amal salah atau menambah amal shaleh.

Pertama, Muhasabah terhadap hal-hal yang diperintahkan Allah. Orang yang berpuasa sejatinya lebih banyak melaksanakan perintah-perintah Allah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Muhasabah ini akan melatih diri untuk ikhlas, semua yang dilakukan karena Allah semata. Bagi orang yang menjalankan puasa dengan penuh kesadaran dan keikhlasan dapat memetik manfaat puasa, tentu akan menjalankannya dengan kerelaan dan kesenangan hati. Bukan dengan keterpaksaan. Bahkan bagi orang-orang tertentu yang sangat mendalam renungannya dalam menemukan hakikat dan hikmah puasa akan sangat kehilangan pada saat harus berpisah dengan Ramadan.

Kedua, muhasabah terhadap hal-hal yang dilarang Allah. Muhasabah ini adalah menghitung-hitung sudah berapa banyak dosa dan maksiat yang telah dilakukan atau kita yang menyebabkan orang lain berbuat dosa dan maksiat, muhasabah ini mengajarkan kita meminta pengampunan kepada Allah agar perbuatan yang lalu dan yang akan datang tidak akan terulang lagi.

Barangkali selama ini kita hanya takut siksa sehingga kita “terpaksa” menjalankan ibadah puasa meskipun terasa berat, menyengsarakan, dan bahkan mengurangi produktivitas kerja kita.

Sehingga kalau seandainya ibadah puasa itu sebuah pilihan, maka kebanyakan kita akan memilih tidak berpuasa. Itulah realitas yang terjadi pada kebanyakan kita umat Islam. Karena itulah sangat wajar manakala puasa yang dilakukan tidak akan memberikan efek atau dampak apapun dalam dirinya, terkecuali rasa lapar dan dahaga.

Ketiga adalah muhasabah terhadap umur dan waktu yang telah berlalu, apakah umur atau usia yang telah diberikan Allah sudah kita gunakan untuk berbuat kebaikan dengan sesama sehingga kita akan selalu memperbaiki diri untuk berbuat baik yang bermanfaat bagi diri kita maupun orang lain.

Dengan bermuhasabah waktu ini perjalanan puasa kita tidak hanya sebuah rutinitas yang tidak memiliki dampak apa-apa, seperti debu yang menempel di bebatuan yang terkena hujan melainkan puasa yang mampu membentuk keshalehan individu maupun keshalehan sosial.

Oleh karena itu menjelang hari-hari akan berakhirnya bulan penuh berkah ini, tidak ada salahnya jika kita memaksimalkan ibadah kita yang hanya bisa kita lakukan pada bulan ini.

Selain itu, di bulan suci ini Allah telah membukakan pintu ampunan dan pintu taubat yang begitu sangat lebar, betapa indahnya jika kita bisa bernaung di dalamnya tanpa ada rasa gundah.

Sehingga jiwa dan raga kita berada pada satu titik yaitu Allah, Allah lagi dan lagi-lagi Allah. Jika kita sudah berada pada satu titik itu, maka tiada lagi yang perlu kita banggakan, karena kita hanyalah sebutir debu di padang gersang.

Seorang Tabi’in generasi as-salaf as-shalih Hasan Al-Bashri juga pernah memberikan nasehat yang bijak dan indah berkaitan dengan muhasabah. “Seorang mukmin itu,” kata Sang Tabi’in,“adalah pimpinan bagi dirinya sendiri. Ia menginstropeksi dirinya karena Allah.

Sesunggunya hisab (perhitungan) pada hari kiamat nanti akan menjadi ringan, bagi mereka yang telah melakukan introspeksi di dunia. Sebaliknya, hisab akan terasa berat bagi mereka yang tak pernah berintrospesi.”

Dengan demikian bermuhasabahlah untuk hasil yang terbaik dari suatu pakerjaan yang akan kita lakukan, salah satunya adalah berfikir, seperti sebuah pepatah pikir dahulu pendapatan menyesal kemudian tiada artinya.

Berpikir adalah bahagian dari muhasabah. Berpikir sebelum bertindak adalah hal yang patut untuk dilakukan. Bahkan, sebagian ulama menyatakan hendaknya seseorang berhenti sejenak, merenung di saat pertama munculnya keinginan untuk melakukan sesuatu.

Tidak bersegera kepadanya sampai benar-benar jelas baginya bahwa melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya.

Hasan Al-Bashri bahkan mendoakan orang yang bermuhasabah sebelum beramal. Beliau berkata,“semoga Allah merahmati seorang hamba yang berpikir di saat pertama ia melakukan sesuatu. Jika itu karena Allah, ia lanjutkan, dan jika bukan karenanya, ia menangguhkannya.”

Maka, hal ini disebut dengan muhasabah sebelum beramal.
Kita menyadari bahwa begitu banyak kelalaian yang kita perbuat. Begitu banyak hak-hak Allah yang tidak kita tunaikan.

Tak jarang kita melakukan seribu satu kesalahan menurut pandangan Allah begitu besar dosanya. Ada beberapa pertanyaan yang patut kita renungkan dalam proses muhasabah ini. pertanyaan-pertanyaan yang akan menyadarkan bahwa kita telah benar-benar jauh dari Allah.
Apa arti diri ini di hadapan Dzat Pemilik Semesta Raya? Apa daya diri ini di hadapan Dzat Yang Maha Segala? Lalu masih pantaskah kita berjalan di muka bumi ini dengan keadaan sombong? Semua kembali pada diri kita sendiri. Namun akankah kita harus menunggu waktu taubat pupus hingga nestapa hati menjadi sirna? Tidak, bukan? Karenanya, di bulan suci penuh berkah ini, marilah kita bermuhasabah diri dengan memohon keberkahan, keselamatan, dan pastinya kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti. Aamiin.

Akhirnya inilah saatnya kita menghapus perlahan gejala yang mungkin bisa menjadi penyakit hati bagi kita semua. Al-Qur’an menjelaskan bahwa tujuan berpuasa adalah la’allakum tattaquun, agar kamu bertaqwa. Lantas selama ini sudah berapa kali kita melewati bulan Ramadhan? Sudahkah kita mencapainya? Siapa yang paling tahu jawabannya melainkan diri kita sendiri? Wallahu a’lam bisshawab.

*Kepala SMP Negeri 2 Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar/Pengurus DPW AGPAII Aceh

Related posts