Ramadan Wahana Pendidikan Istimewa (Memaknai Hari Pendidikan Nasional)

  • Whatsapp

Oleh: Syarifah Musanna, S.Ag, MA*

OPINI —Tak terasa fase pertama diawal bulan ramadhan yang diberi nama Rahmah (kasih sayang) sudah berada di penghujung waktu dan akan memasuki fase kedua di bulan suci.

Read More



Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi kaum muslimin. Secara umum, puasa didefinisikan oleh para ulama Fiqih adalah upaya menahan diri dari semua hal yang membatalkan puasa sejak dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Kewajiban puasa berdasarkan firman Allah Swt, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa seperti telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(Q.S Al Baqarah /2:183).

Tujuan akhir puasa adalah membentuk manusia yang bertakwa. Tujuan puasa tersebut merupakan bagian dari tujuan pendidikan nasional. Dalam pendidikan nasional, takwa menjadi salah satu tujuan yang ingin dibentuk dalam proses belajar mengajar di sekolah. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Ramadan adalah pendidikan istimewa bagi kaum Muslimin. Di bulan ini, umat Islam ditempa, dididik, dilatih, dan dibimbing untuk menjadi insan mulia. Tidak ada pendidikan yang terbaik dan istimewa yang disediakan oleh Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya selain bulan ramadhan, di mana meliputi seluruh dimensi kehidupan menuju kesempurnaan iman secara spiritual dan sosial agar untuk tunduk dan patuh pada ketentuan Sang Pencipta Allah SWT.

Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan amal ibadah tambahan (sunah) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim).

Bulan ramadan dapat dijadikan wahana yang sangat tepat untuk mendidik berbagai hal, baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Intinya ramadhan adalah menjadi wahana pendidikan dalam mendidik dan melatih attitude atau perilaku seseorang menjadi insan paripurna.

Refleksi Ruh Pendidikan dalam Bulan Ramadan.

Selama satu bulan, umat Islam mengikuti pendidikan dan latihan berdasarkan kurikulum dari Allah SWT melalui ibadah puasa. Bulan yang mulia ini diibaratkan sebagai sebuah sekolah yang selalu dibuka setiap tahun ajarannya dengan tujuan pendidikan praktis dalam menyerap nilai-nilai yang paling tinggi.

Barangsiapa mendaftarkan dirinya sebagai calon siswa di bulan suci ramadan dengan penuh keikhlasan dan keimanan untuk mendapatkan ridha Allah, kemudian ia berpuasa sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, lalu ia dapat melakukan ibadah tambahan secara ekstra sesuai yang telah disyariatkan, maka ia akan lulus dengan nilai predikat istimewa (cumloude) dan menyandang gelar muttaqin.

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasiona (Hardiknas) pada tanggal 2 Mei 2020 bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1441 H, penulis mengajak seluruh pelaku pendidikan agar dapat mengambil ibrah (pelajaran) terhadap nilai-nilai yang terkadung dalam puasa di bulan ramadan, dan menjadikan momentum peringatan Hardiknas ini untuk melakukan muhasabah, atau refleksi terhadap usaha-usaha yang telah kita perjuangkan di bidang pendidikan sebagaimana tercermin dalam ajaran Islam.

Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar perayaan, peringatan atau mengenang perjuangan serta kegigihan Ki Hadjar Dewantara dalam bidang pendidikan semata.

Namun harus dimaknai Hardiknas sebagai wahana untuk membangun semangat perubahan dan perbaikan, terlebih, jika melihat kondisi terkini yang tak luput pemberiataan negatif yang melibatkan pelajar dari berbagai media.

Terlalu banyak batu sandungan, membuat dunia pendidikan terus-menerus jadi polemik.
Sungguh, mencari cara untuk membenahi dunia pendidikan di Indonesia bukanlah suatu perkara yang mudah. Dunia pendidikan makin dihadapi tantangan besar. Belum lagi mencari solusi dan strategi yang tepat untuk merespon era revolusi industri 4.0. Berharap adanya peningkatan kualitas pendidikan akan menjadi isapan jempol semata, terlebih di tengah wabah virus corona yang melanda Indonesia jika tidak disikapi dengan bijak dan cerdas.

Begitu banyak generasi muda yang terjerumus dalam kasus kriminal maupun terjerat obat-obatan terlarang. Ini merupakan gambaran buruk potret pendidikan yang menodai semangat perbaikan di dunia pendidikan Indonesia.

Belajar itu tidak hanya dijalankan lantaran tuntutan akan menghadapi ujian di sekolah atau harapan dari selembar ijazah semata. Namun sebaliknya belajar harus dilakukan sepanjang hayat. Sepanjang hayat dalam konteks ini berarti belajar secara terus-menerus dan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan.

Dengan adanya aktifitas di bulan ramadan ini yang dilakukan dengan istiqamah maka akan dapat implementasikan kebiasaan yang baik dalam kehidupan sehari-hari, sehingga semangat ramadan itu akan terus ada dalam kehidupan manusia sepanjang hayatnya.

Mereka akan merasa diawasi oleh Allh SWT dimanapun, berada. Jika seseorang mampu menjaga komitmennya seperti saat berada di bulan ramadan, tetap patuh pada ketentuan Allah SWT, maka merekalah orang-orang yang beruntung dunia dan akhirat.

Inilah momentum semua pihak untuk berpikir ulang tentang cara memajukan pendidikan Indonesia. Pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa.

Pendidikan tidak bisa dipandang sebagai sebuah program semata. Semua elemen masyarakat ikut terlibat untuk membenahi dan memajukan dunia pendidikan.

Dengan demikian, setelah menjalani proses pendidikan dalam waktu yang singkat dan praktis selama bulan ramadan, maka sebagai ummat muslim dapat meraih derajat ketaqwaan sebagai salah wujud dari perubahan diri dalam berbangsa dan beragama.

Semoga kita semua dapat menjalankan ibadah puasa dengan niat untuk merubah menuju kehidupan jasmani dan rohani menuju kearah yang lebih baik.

*Penulis adalah guru PAI di Sekolah SMA Negeri 1 Kuta Baro kabupaten Aceh Besar

Related posts