Rendah Hati Adalah Salah Satu Sarana untuk Mencapai Kemuliaan

  • Whatsapp

OPINI—Salah seorang bijak berkata: “Buah daripada qana’ah (menerima apa adanya) adalah kesejahteraan, dan buah daripada tawadhu’ (rendah hati) adalah di sayang orang, dan rendah hati adalah salah satu sarana untuk mencapai kemuliaan”.

Ada sebuah kisah, diceritakan bahwa Al-Muhallab bin Abu Shufrah, seorang kapten tentara Al-Hajjaj.

Read More



Pada suatu hari dengan berpakaian sutera menampakkan keangkuhannya dalam perjalanan, kemudian Mutharrif berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, cara jalan yang seperti itu dimurka oleh Allah dan Rasul Nya”.

Al-Muhallab lalu berkata: “Apakah kamu belum mengetahui siapa aku?”.

Mutharrif menjawab: “Aku mengetahui siapa kamu. Kamu diciptakan dari mani yang keji, dan kelak akan menjadi bangkai yang busuk dan menjijikkan, dan di antara keduanya itu (maksudnya selama hidup di dunia) kamu selalu membawa kotoran (tahi) kemana-mana”.

Mendengar yang demikian itu, Al-Muhallab langsung merubah cara jalannya.

Seorang cendekiawan pernah berkata: “Kebanggaan seseorang yang beriman adalah dengan Tuhannya, dan kemuliaannya dengan agamanya. Sedangkan kebanggaan orang munafik adalah derajat (pangkat) nya, dan kemuliaannya dengan harta kekayaannya”.

Sikap rendah hati berbanding terbalik dengan sikap sombong. Al-Faqih menerangkan bahwa sombong itu termasuk perangai orang-orang kafir dan firaun.

Sedangkan sikap rendah hati adalah termasuk akhlak para nabi dan orang-orang shalih.

Rasulullah Saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Umar ra. Bahwasanya ia berkata: “Pokok daripada sikap rendah hati adalah memulai mengucapkan salam kepada setiap muslim yang kamu jumpai, merasa senang duduk di mana saja didalam majelis, dan tidak senang bila disebut-sebut kebaikan dan ketakwaannya”.

Allah mencintai orang-orang yang merendahkan diri, dan kecintaan Nya kepada orang kaya yang merendahkan diri lebih dalam.

Oleh karena sikap rendah hati merupakan akhlak para nabi dan orang-orang shalih, maka Rasulullah Saw sangat menganjurkan agar kita dapat bersikap merendah kepada mereka yang rendah hati.

Sebaliknya, kita juga dianjurkan untuk bersikap sombong pula bila melihat dan mendapati orang-orang yang bersikap sombong.

Sabda Rasulullah Saw:

“Apabila kamu melihat orang-orang yang merendah, maka merendahlah kamu kepada mereka; dan bila kamu melihat orang-orang yang sombong maka bersikaplah sombong kamu terhadap mereka, karena yang demikian itu merupakan penghinaan dan kehinaan buat mereka dan merupakan shadaqah bagi kamu”. (HR. Ibnu Umar ra).

Berkaca dari berbagai peristiwa yang pernah terjadi di muka bumi dan bagaimana Allah menghancurkan orang-orang sombong itu dengan kehinaan yang hina dina. Maka apa sih yang kita sombongkan?

Lihatlah nasib Qarun, Firaun, dan Namrud. Raja-raja yang berkuasa dari ujung barat hingga ujung timur dan memiliki kekayaan luar biasa banyaknya. Tapi mati dengan sebab yang remeh temeh. Mereka Allah hinakan saat kematian menjemput akibat kesombongan.

Lalu dibandingkan dengan Anda, saya, dan kita semua, maka belum ada apa-apanya. Kekayaan Qarun tidak tertandingi kecuali kekayaannya Raja Sulaiman. Lalu mengapakah kamu sombong?

Sadarlah wahai saudaraku yang saat ini mungkin belum paham jika kesombongan itu dapat menjauhkan kita dari kebaikan dan nikmat Allah.

Anda yang sedang diberikan kekuasaan, maka gunakan itu sebagai alat untuk membuat rakyat sejahtera, bahagia, dan hidup tenteram. Wujudkan keadilan dan lindungi hak-hak orang lain.

Ubahlah cara pandang diri sebagai orang paling berkuasa. Sehingga Anda tidak mengedepankan nafsu kekuasaan yang kadang dapat membuat Anda bersikap serba boleh.

Kembalilah kedasar penciptaan, serta miliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Tidak perlu Anda menyebut jabatan setinggi apapun yang saat ini Allah titipkan. Toh langit tidak pernah berkata bila dirinya langit. Maka untuk apa Anda bertepuk dada, berkacak pinggang. Sikap seperti itu hanya semakin meneguhkan siapa Anda dihadapan orang lain. (*)

Penulis: Hamdani, SE.,M.Si



Related posts