Sukses Menjadi Guru, InsyaAllah Guru Sukses

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Yani, S. Pd. I, M. Ag*

OPINI--Ternyata tidak semua guru itu sukses menjadi guru. Sama halnya dengan tidak semua dokter sukses menjadi dokter. Guru dan dokter merupakan sebuah profesi yang memiliki kriteria tertentu agar bisa memiliki profesi ini.

Read More



Memiliki atau memenuhi kriteria itu masih sebatas legalitas dan sudah pasti dimiliki oleh mereka yang memilih profesi ini, namun dalam bertindak baik sebagai guru dan dokter tentunya beda. Sering kita dengar istilah malpraktek dalam dunia kedokteran. Namun kata malpraktek bukanlah hal yang menyenangkan didengar melainkan menakutkan karena bisa menyebabkan cacat seumur hidup bahkan kematian. Malpraktik juga berarti merugikan pasien akibat kelalaian dokter dan petugas paramedis. Kesalahan ini bisa disengaja maupun tidak sengaja dan berakibat ringan maupun fatal.

Bagaimana dengan guru yang tidak disenangi oleh peserta didiknya, dido’akan oleh peserta didik agar sakit atau ban motornya bocor supaya tidak bisa hadir ke sekolah, ataupun ada guru di kelas sedang memberikan pembelajaran, namun pesertra didik tidak peduli,dan lebih memilih cabut untuk nongkrong di luar atau tidur di mushala hingga selesai 2 atau 3 jam mata pelajaran tersebut.

Profesi guru adalah pekerjaan mulia karena salah satu tugas guru untuk mencerdaskan anak bangsa, Guru merupakan fiqur penting dalam kehidupan umat manusia, kehadiran guru sering diibaratkan sebagai pelita untuk penerang dalam kegelapan, sungguh ironis jika pelita yang ada jangankan untuk memberi cahaya kepada yang lain untuk diri sendiri saja kadang-kadang tidak mampu dilakukan. Bagian dari pendidikan itu sendiri adalah keberadaan guru tidak hanya pandai dalam mengajar akan tetapi guru juga harus mau dan mampu dalam mendidik.

Untuk itu setiap guru selain harus memiliki empat kompetensi sebagaimana diharapkan oleh UU Nomor 15 Tahun 2005 tentang guru dan dosen juga memahami akan fungsi serta tugasnya sebagai guru yang digugu dan ditiru (ing ngarso sung tulodo, ing madya mbagun karso dan tut wuri handayani).

Betapa sakralnya seorang guru dalam dunia pendidikan, karena guru harus menjadikan hidupnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan itu sendiri. Artinya segala aktifitasnya dalam kehidupan sehari-hari adalah guru, karena semua tertuju padanya dikarenakan lebel sebagai guru.

Di sekolah/madrasah tokoh sentral yang menjadi panutan peserta didik adalah guru. Penampilan guru di kelas dan di luar kelas, dari cara berpakaian sampai cara berbicara serta persepsi guru dalam berbagai hal akan diikuti oleh sebagian besar peserta didiknya.

Beberapa guru dijadikan idola oleh peserta didiknya baik karena pembelajaran yang disampaikan ataupun karakter gurunya yang ramah, sabar, peduli taua lain sebagainya.

Sebagian lagi ditakuti, bahkan tidak sedikit guru yang diabaikan oleh mereka. Misalnya ada beberapa teman guru yang bercerita kepada saya, antara lain Buk D, bahwa ketika dia masuk di Kelas IPS selalu tidak pernah lengkap, ada saja 2 sampai 3 peserta didik yang cabut bahkan kadang-kadang setengah yang ada di kelas selebihnya di luar, padahal pada jam sebelum dan sesudahnya kelas kembali terisi penuh. Jika hal ini dikaji lebih dalam maka masalah Buk D ini tidaklah merupakan kesalahan peserta didik semata-mata, akan tetapi bisa jadi ada sikap guru yang harus diperbaiki.

Begitu juga dengan cerita Pak E kepada saya ketika sebagai narasumber pada pelatihan ke daerah, katanya peserta didiknya susah sekali diarahkan khususnya terkait dengan larangan merokok di sekolah. Akan tetapi Pak E sendiri tidak bisa jauh dengan rokok dimulutnya disaat menegur peserta didik yang merokok. Untuk merubah prilaku peserta didik maka guru harus mampu memberikan contoh prilaku yang baik.

Sebagaimana contoh tadi untuk melarang agar peserta didik tidak merokok maka guru juga tidak merokok atau tidak memperlihatkan merokok di depan siswa. Idealnya guru sama sekali tidak boleh merokok, umumnya pada bungkusan rokok itukan peringatan akan dampak negatif yang akan ditimbulkan. Ketika guru menyampaikan ke siswa menghindari negatif namun guru sendiri yang melanggar kata-katanya tentu tidak akan berpengaruh terhadap perubahan pada peserta didik, sama halnya ketika guru PAI menyampaikan kepada peserta didik shalat jamaah lebih baik dari pada shalat sendirian, namun dalam kenyataannya guru tersebut tidak pernah hadir shalat berjama’ah baik ketika jamaah dhuhur di sekolah ataupun jama’ah shalat fardhu lainnya dalam tempat tinggalnya.

Guru yang diharapkan Karena Sukses Menjadi Guru

Muhammad Samir al-Munir dalam bukunya ketika menulis risalah untuk guru mengatakan”kami meletakkan belahan hati dan jiwa kami dihadapan anda (guru) agar mereka mendengar apa perkataan anda, mata mereka terikat kepada anda, yang baik bagi mereka adalah apa yang anda kerjakan dan yang buruk menurut mereka adalah apa yang anda tinggalkan. Karena itu dalam memperbaiki mereka yang pertama sekali anda perbaiki adalah diri anda sendiri.

Anda jaga diri anda agar senantiasa dalam kebaikan…Mereka akan menuai buah dari benih/kebaikan yang anda tanam karena itu jadilah teladan yang baik bagi mereka.”

Kebiasaan dan karakter yang diteladankan di sekolah akan terbangun dalam jiwa peserta didik bila di dukung dengan kabijakan dan perhatian orang tua. Peserta didik tidak hanya menilai seorang guru dari ucapan semata, akan tetapi mereka juga akan melihat kesesuaiannya dalam tindakan nyata.

Berperilaku yang tidak sesuai dengan apa yang diucapkan termasuk hal yang dimurkai oleh Allah SWT sebagaimana dalam Q.S Ash-Shaaf ayat 2-3 yang artinya”Hai orang-orang yang beriman mengapa engkau mengatakan apa yang tidak engkau kerjakan.

Amat besar kebencian disisi Allah bahwa engkau mengucapkan apa-apa yang tidak engkau kerjakan.”
Salah satu karakter untuk mendukung sikap spiritual yang perlu dikembangkan di sekolah, seperti membiasakan mengucapkan salam, membaca do’a sebelum dan sesudah belajar, membaca surat Yasin setiap pagi Jum’at dan melaksanakan shalat dhuhur secara berjama’ah baik di mushalla sekolah atau Masjid/Mushalla yang dekat dengan sekolah.

Bahwa pembiasaan penumbuhan karakter seperti ini tidak hanya menjadi tugas guru Pendidikan Agama Islam (PAI), sehingga setiap hari Shalat Dhuhur berjama’ah di mushalla bersama siswa selain guru PAI juga seluruh guru mata pelajaran lain dan kepala sekolah/madrasah harusnya selalu di depan dalam penumbuhan karakter sikap spiritual di lingkungan pendidikan artinya ada kepedulian.

Bukan sebaliknya peserta didik peserta didik yang memberi contoh pada guru.
Guru yang sabar, penuh kasih sayang dan sering memberi pujian lebih dicintai oleh peserta didiknya. Setiap kemajuan peserta didik, keberhasilan, prestasi, keunggulan, kemauan sekecil apapun dihargai dan direspon dengan positif dengan penuh keadilan terhadap semua peserta didik.

Sebagaimana Allah menghargai setiap amal manusia walaupun sekecil biji sawi. Mengacungkan ibu jari disertai dengan senyuman yang tulus dari seorang guru akan berkesan dalam jiwa peserta didik dan akan mendatangkan kekuatan dasyat bagi mereka.

Pemberian jempol dan pujian tulus akan membuat peserta didik pandai dalam menghargai orang lain, mereka akan lebih percaya diri, berani mencoba dan menghormati orang lain.

Memberi hukuman yang sesuai dan mendidik serta tegas bukan keras. Untuk itu hindari menjadi guru yang sering memberi hukuman dan guru yang suka merepet serta marah-marah
Seorang guru yang diharapkan selain memiliki karakter yang baik juga dapat membuat jam pelajaran berlangsung tanpa terasa. Baik guru dan anak didik sama-sama merasakan kenikmatan dalam proses belajar mengajar. Situasi belajar yang menyenangkan ini dapat tercipta berkat kreativitas, model dan metode pembelajaran yang bervariasi dan usaha yang dilakukan oleh guru. Sukses menjadi guru harus bisa menumbuhkannya, menyemai dan menyiramnya sehingga berbuah untuk semua.

Jadilah seorang guru yang hadirnya ditunggu, hilangnya dirindu, ilmunya diburu, nasihatnya diseru, dan tingkah lakunya ditiru.

*Penulis adalah Guru PAI Pada SMAN 1 Peukan Bada, Ketua MGMP PAI SMA Provinsi Aceh, Sekretaris DPW AGPAII Aceh, Pengurus BKM Mesjid Al-Istiqamah Peukan Bada, Redaktur Kepala Jurnal Pendidikan Nusantara, Editor Pelaksana Jurnal Ilmiah Cendekia Pendidikan Agama Islam dan Pembina YAPERA NAD.

Related posts